Kafey's Cafe

cafe online–tersedia menu maya


Leave a comment

Murid sebagai Center, Guru Fasilitator dan Motivator

Sosial Learning (personal learning) sangat menekankan kepada kegiatan murid sebagai pusat dari pembelajaran. Dengan internet hal itu akan sangat mudah dilakukan, karena berjuta-juta resource tentang pengetahuan tersedia secara gratis. Contoh yang paling terkenal adalah situs wikipedia.org.

Dari hasil pengamatan yang saya lakukan dalam beberapa waktu belakang pada pilot project Medresa di salah satu SMP di Bandung, peran guru masih harus cukup besar untuk terciptanya suasana belajar yang berpusat kepada siswa tersebut. Tapi perannya sekarang harus dirubah, kalau dulu adalah sebagai sumber ilmu, sekarang lebih menjadi seorang fasilitator dan motivator bagi muridnya untuk menggali lebih dalam lagi pengetahuan yang mesti mereka pelajari.

Sebagai fasilitator seorang menurut saya harus memainkan peran sebagai media penghubung antar pengetahuan yang didapatkan anak melalui proses belajar mandiri. Dan tentu saja para guru tidak boleh ketinggalan informasi sehingga dalam proses diskusi tentang suatu pengetahuan sang guru tetap bisa menjadi penunjuk arah ketika diskusi sudah keluar dari jalur yang seharusnya. Selain itu tugas fasilator tentu saja mengarahkan proses belajar mengajar sehingga tidak keluar dari kurikulum yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Selanjutnyaperan sebagai seorang motivator sudah tentu akan sangat berguna bagi proses belajar mandiri. Seorang guru harus bisa memancing murid-muridnya untuk bisa melakukan proses pembelajaran tersebut kemudian bisa menghasilkan sebuah pemahaman yang komprehensif terhadap suatu topik pembelajaran.

Dengan terciptannya sinergisasi antara guru sebagai fasilitator dan motivator dengan  proses belajar mandiri siswa maka hasil yang akan didapatkan saya yakin akan lebih baik daripada ketika seorang guru menjadi penceramah di depan kelas.


2 Comments

Tidak ada Ide Original di Dunia Ini

Postingan ini terinspirasi dari hasil diskusi dengan teman-teman di kantor untuk proyek “iseng” di sela pengembangan platform medresa.  Proyek “iseng” ini adalah ujicoba apa yang telah dilakukan google dengan memberikan 20 % waktu kepada karyawannya untuk membuat proyek pribadi.

Setelah diskusi cukup panjang untuk mendorong teman-teman dikantor memikirkan proyek apa yang akan mereka bikin, ada sebuah kendala ternyata. Bagaimana mendapatkan ide sehingga proyek tersebut memang bisa berhasil bukan hanya dari sisi aplikasinya jadi tapi juga bisa menjawab kebutuhan user. Pertanyaan ini juga mungkin selalu muncul di beberapa seminar atau workshop yang berhubungan dengan kewirausahaan, saya mau bisnis, tapi kira2 bisnis apa ya yang akan saya lakukan?

Menurut saya, sebenarnya ide tersebut sudah banyak bersebaran dan sudah diimplementasikan, tapi pasti tetap ada celah dari yang sudah ada asalkan kita mau untuk berfikir sedikit. Pasti sudah sering dengar dengan selogan ATM, amati, tiru, modifikasi. Yang paling penting sebenarnya bukan dari ide yang cemerlang tersebut tapi dari motivasi dan kemauan untuk memulainya, dan itu harus didasari oleh passion kita masing-masing.

Di dunia ini sebagian besar ide tidak orisinal, seperti sejarah, ide tersebut adalah pengulangan dari hal-hal lampau yang kemudian berkembang sesuai dengan zamannya. Kita lihat mobil sebenarnya adalah modifikasi dari kereta yang sebelumnya ditarik oleh hewan, begitupun dengan komputer (modifikasi memang canggih sih!). Kalau berbicara hasil produk IT dan web, hampir semua adalah hasil dari inovasi yang memodifikasi yang sudah ada.  Bahkan situs terbesar sekarang facebook.com adalah hasil ATM dari friendster yang sudah ada sebelumnya.

Jadi tidak susah kan untuk memulai, tinggal keinginan itu, kemudian cari yang sudah ada pake ilmu ATM tersebut, selamat mencoba