Kafey's Cafe

cafe online–tersedia menu maya


1 Comment

Fitur atur privacy status di Facebook

Persaingan di sosial media semakin ketat, facebook sebagai situs jejaring sosial terbesar dengan anggota lebih dari 750 juta orang tidak mau kecolongan dengan munculnya google+. Isu privacy yang selama ini selalu mengganggu facebook yang dijadikan salah satu gimik di google+ akhirnya mereka jawab dengan mengeluarkan fitur untuk pengaturan siapa saja yang berhak melihat postingan kita ketika sebuah status dibuat.

fbhome

Pada screenshot di atas dapat dilihat ada tambahan satu bar baru di tempat status kita buat. Bar itu untuk mengatur privacy siapa saja yang bisa melihat status kita (public, friends, atau custom). Selain pengaturan privacy, model mention teman (tag) yang semula bisa menggunakan @, sekarang diberikan bar untuk menuliskan nama teman. Dan satu lagi fitur yang disematkan disini adalah fitur tempat dimana kita berada, yang sebelumnya terpisah dari facebook adanya di facebook place.

Untuk fitur privacy sendiri sebenarnya dulu sudah ada, tapi kita mesti masuk dulu ke pengaturan keseluruhan tidak bisa diatur setiap kali kita ingin menuliskan status. Yang baru sekarang adalah pengaturan custom dimana kita bisa menentukan personal bukan hanya publik atau teman atau teman dari teman seperti pengaturan sebelumnya.

Dilihat dari sisi usability, dibandingkan google+, fitur pengaturan privacy postingan facebook ini cukup lebih rumit, terutama untuk pengaturan personal (orang-per orang) karena mesti masuk ke pilihan custom dan kemudia beberapa langkah baru bisa menentukan siapa saja yang berhak melihat postingan kita.

Pertanyaan selanjutnya apakah fitur ini bisa dimanfaatkan user dengan baik, atau menurut anda kira-kira bisa berguna untuk apa saja?


3 Comments

Kebiasaan Menulis Dipengaruhi Kebiasaan Membaca

Hari Ahad kemaren di kantor diadakan kopi darat pertama komunitas menulis. Komunitas ini dimulai dari group di facebook yang diinisiasi oleh seorang guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Nagreg yaitu Pak Iwan Ardi. Yang hadir kemaren sekitar 5 orang dan yang paling mengejutkan ada 2 orang yang cukup sepuh tapi masih punya semangat untuk belajar menulis.

Setelah ramah- tamah dan memperkenalkan diri, kemudian lanjut ke acara diskusi tentang kendala-kendala yang dihadapi ketika menulis. Salah satu pertanyataan yang menarik buat saya adalah permasalahan hilangnya ide ditengah jalan ketika sedang menulis sesuatu, padahal di awalnya sudah menemukan topik untuk ditulis. Itu sering terjadi juga pada saya, ternyata saudara-saudara!, permasalahan kehilangan ide dan kehilangan diksi di tengah-tengah kita menulis disebabkan oleh kebiasaan kita membaca yang sering putus-putus atau terhenti ditengah. Selain itu juga karena kita kurang menguasai topik tersebut.

Dari diskusi ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk bisa menulis harus dipancing dulu dengan memperluas wawasan kita, baik dengan membaca ataupun melakukan eksplorasi terhadap suatu hal.

Jadi mari menulis dan itu bisa di mulai di blog atau facebook untuk gampangnya.


Leave a comment

Penerapan E-Learning Guru Harus Paham “User Behavior” Muridnya

Saya ingin sedikit berbagi tentang Seminar Nasional Elearning yang diadakan oleh Comblabs ITB. Acara yang sangat menarik dengan jumlah audiens yang cukup besar, sampai mencapai angka 250 orang yang terdiri dari Guru, Dosen, dan praktisi e-learning. Saya tidak ingin menceritakan keseluruhan acara ini tapi ada satu hal yang cukup menarik dari hasil pertanyaan audiens yang merupakan  guru yang telah mencoba memanfaatkan TIK dalam proses belajar mengajarnya.

Bapak guru ini menjelaskan bahwa ada sedikit kendala yang dia temukan dalam penerapannya, dia mencoba menulis tentang bahan pelajaran di sebuah blog,  murid-muridnya juga diberikan tugas untuk membuat blog dan proses ini bekerja dengan cukup memuaskan, tapi ketika si Bapak membagi bahan pelajaran melalui email cukup menemui kesulitan dan muridnya jarang yang mengunduh bahan tersebut. Si Bapak berkesimpulan bahwa kendalanya adalah di infrastruktur internet, murid-murid belum semua bisa mengakses internet dengan mudah. Dan kemudian diskusi berkembang di masalah infrastruktur ini.

Saya mencoba menganalisis, benarkah kendalanya ada di akses internet para murid? Kalau dilihat dari kasus di atas ketika penggunaan blog berjalan dengan lancar tapi pada saat guru mengirimkan bahan pelajaran via email bermasalah, menurut saya itu bukan permasalahan ketidaktersediaan infrastruktur internet. Walaupun belum semua murid mempunyai akses internet di rumah, tapi warnet sangat banyak dengan harga yang cukup terjangkau. Permasalahannya si Bapak guru tidak memahami user behavior, bagaimana cara anak-anak sekarang mengkonsumsi media online, apa saja yang mereka lakukan, dimana mereka berkumpul.

Dari hasil pengamatan saya anak-anak sekolah zaman sekarang sudah banyak yang meninggalkan email, mereka lebih senang untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-temannya melalui social media, seperti facebook, twitter, kaskus, ataupun blog. Email yang mereka punya hanya digunakan sebagai syarat untuk mengkases situs-situs sosial media tersebut.

Sepertinya benar yang dikatakan Mark Zuckerberg sang pendiri facebook bahwa ABG sudah jarang menggunakan email.


1 Comment

Edutainment via Social Media, Orang Tua Harus Menemani dan Mengarahkan

Banyak konten-konten yang bermutu dan bermanfaat untuk pembelajaran dan perkembangan anak di Social Media. Salah satu yang cukup menarik adalah konten video yang ada di Youtube.com. Kita pasti semua sepakat bahwa belajar dari konten yang bersifat audio dan visual akan lebih menarik dan menyenangkan, apalagi kemudian ditambahkan eksperiens sosial berupa berbagi dengan teman melalui fitur share di facebook ataupun twitter. Tapi ada suatu hal yang harus diperhatikan ketika kita mengkonsumsi itu lewat sosial media, karena sifatnya bebas dan terbuka maka untuk anak-anak harus tetap ditemani dan diarahkan oleh orang tua.

Memang di Indonesia cukup bebas, tidak ada aturan yang ketat mengenai konsumsi media sosial, walaupun sudah ada aturan dari situs semisal facebook.com yang membatasi penggunanya diatas 13 tahun, tapi tetap saja anak-anak SD di Indonesia sudah banyak yang mempunyai akun. Kalau di luar negri, situs semacam togetherville.com (sosial media khusus anak-anak) untuk mendaftar harus melalui akun orang tua, dan setiap aktifitas anaknya orang tua akan bisa mengawasinya.

Khusus untuk situs seperti youtube.com dan yang sejenis, dimana untuk mengakses konten tidak dibatasi (kecuali konten dewasa) tugas orang tua adalah memfilter mana saja konten yang cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan peran seperti ini, selain anak-anak akan menikmati belajar sambil bermain, kedekatan antara orang tua dan anak akan semakin tinggi intensitasnya.


2 Comments

E-Learning 2.0;Chatting Bareng Teman, Interaksi Guru-Murid, sampai Fenomena #Kultwit

“Hi Dit udah sampai level berapa?, aku sudah sampai level 22 nih.”

“Eh add aku jadi tetanggamu dong di farmville”.

Itulah sekulimit percakapan di aplikasi chating facebook yang dilakukan oleh adik-adik sepupuku (seharusnya belum boleh menggunakan facebook). Mereka dengan serius dan konsentrasi tinggi  memainkan games  sekaligus chatting yang tersedia di aplikasi situs jejaring sosial dengan jumlah anggota lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia. Sepertinya asyik sekali, bahkan mereka bisa lupa waktu asalkan tidak kalah dengan teman-temannya yang main di rumah masing-masing.

Memang penetrasi internet dan situs jejaring sosial tidak bisa lagi dihindari di dalam kehidupan kita khususnya kota besar. Mungkin sudah hampir semua siswa mulai SD sudah menggunakan media internet untuk sekedar berselancar atau melakukan aktifitas sosial dengan teman-temannya. Tapi ada kekhawatiran diantara orang tua bahwa semua itu tidak selalu membawa akibat baik buat anak-anaknya, seringkali malah menimbulkan akibat negatif. Dan cara paling mudah untuk mengatasi itu semua katanya dengan melakukan pembatasan akses buat kepada anak-anak.

Benarkah internet atau khususnya social media hanya digunakan untuk hal-hal yang sifatknya kurang bermanfaat bagi anak-anak? Sepertinya tidak juga, seperti halnya media yang lain, social media juga punya dua sisi, tergantung siapa yang menggunakan dan bagaimana memanfaatkannya. Contohnya jejaring facebook, beberapa orang guru kemudian menjadikannya sebagai ajang komunikasi dengan para murid, misalnya untuk memberi tahu ada tugas, atau pengumuman lainnya. Ada juga yang memanfaatkan untuk membuat notes tentang pelajaran yang kemudian dibaca oleh jejaringnya. Bahkan ada beberapa tools e-learning yang sudah terinstal di aplikasi facebook.

Lain facebook, lain twitter, dengan sifatnya sebagai media informasi, aplikasi satu ini sudah banyak digunakan untuk berbagi hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Tidak hanya pengetahuan umum, pengetahuan yang spesifik tentang topik tertentu sering dibagi oleh orang yang memang ahli di bidangnya secara akademik. Fenomena yang terakhir muncul di Indonesia dan sering disebut sebagai #kultwit (twit berseri).

Tantangannya adalah bagaimana institusi pendidikan bersama guru dan murid secara masif memanfaatkan media ini dan kemudian bisa mengisi dengan konten-konten yang positif.

Kalau saya pribadi ingin membayangkan percakapan dua sepupu saya diatas dilakukan ketika mereka sedang memainkan mainan pendidikan sosial (sosial edugames), atau mereka akan ketagihan memainkan sebuah permainan pendidikan seasyik main PointBlank…..jadi saatnya kita wujudkan #blajarasyik

 

 


Leave a comment

Membuat Video Klip, Presentasi, Bahan Ajar Multimedia, Coba Animoto

Untuk yang sering bermain dengan foto dan video pasti tidak asing dengan membuat klip video yang digabungkan dari beberapa foto ditambahkan dengan  musik latar dan sentuhan animasi sehingga menjadi lebih menarik. Biasanya kita memakai tools movie maker yang paling sederhana atau yang punya kemampuan lebih dengan menggunakan adobe after effect.

Dari hasil berselancar dan melihat beberapa blog saya menemukan animoto, layanan online untuk membuat video klip. Dari video penjelasan 60 detik mereka, proses pembuatan video klip sangat mudah, intinya menggabung, foto, video dan musik  kemudian bisa ditambahkan dengan cerita tentang klip tersebut atau pesan pribadi, setelah itu tinggal di publish bisa di animoto sendiri atau bisa di website pribadi kita. Foto yang akan digunakan bisa diambil dari flickr, picasa ataupun facebook. Animoto sendiri sudah menyediakan beberapa templet untuk gaya video yang ingin kita publish.

Dari hasil eksplorasi sekilas, aplikasi ini cukup membantu untuk membuat video klip ataupun presentasi sederhana, dan bisa digunakan juga untuk membuat bahan pelajaran yang menarik bagi guru-guru untuk di publish di internet.  Semakin mudah hidup ini.


2 Comments

Tidak ada Ide Original di Dunia Ini

Postingan ini terinspirasi dari hasil diskusi dengan teman-teman di kantor untuk proyek “iseng” di sela pengembangan platform medresa.  Proyek “iseng” ini adalah ujicoba apa yang telah dilakukan google dengan memberikan 20 % waktu kepada karyawannya untuk membuat proyek pribadi.

Setelah diskusi cukup panjang untuk mendorong teman-teman dikantor memikirkan proyek apa yang akan mereka bikin, ada sebuah kendala ternyata. Bagaimana mendapatkan ide sehingga proyek tersebut memang bisa berhasil bukan hanya dari sisi aplikasinya jadi tapi juga bisa menjawab kebutuhan user. Pertanyaan ini juga mungkin selalu muncul di beberapa seminar atau workshop yang berhubungan dengan kewirausahaan, saya mau bisnis, tapi kira2 bisnis apa ya yang akan saya lakukan?

Menurut saya, sebenarnya ide tersebut sudah banyak bersebaran dan sudah diimplementasikan, tapi pasti tetap ada celah dari yang sudah ada asalkan kita mau untuk berfikir sedikit. Pasti sudah sering dengar dengan selogan ATM, amati, tiru, modifikasi. Yang paling penting sebenarnya bukan dari ide yang cemerlang tersebut tapi dari motivasi dan kemauan untuk memulainya, dan itu harus didasari oleh passion kita masing-masing.

Di dunia ini sebagian besar ide tidak orisinal, seperti sejarah, ide tersebut adalah pengulangan dari hal-hal lampau yang kemudian berkembang sesuai dengan zamannya. Kita lihat mobil sebenarnya adalah modifikasi dari kereta yang sebelumnya ditarik oleh hewan, begitupun dengan komputer (modifikasi memang canggih sih!). Kalau berbicara hasil produk IT dan web, hampir semua adalah hasil dari inovasi yang memodifikasi yang sudah ada.  Bahkan situs terbesar sekarang facebook.com adalah hasil ATM dari friendster yang sudah ada sebelumnya.

Jadi tidak susah kan untuk memulai, tinggal keinginan itu, kemudian cari yang sudah ada pake ilmu ATM tersebut, selamat mencoba


22 Comments

Jualan di Facebook Jangan seperti Pedagang Kaki Lima

Newsfeed  facebook akhir-akhir ini mulai kelihatan seperti lapak kaki lima. Mungkin ada beberapa orang yang terganggu dengan aktifitas ini. Modus yang sering dilakukan adalah tag seseorang yang terkenal dan punya banyak teman ke suatu foto produk yang yang sebenarnya dia tidak terkait dengan foto tersebut. Harapannya adalah foto produk itu menyebar ke feed teman-teman orang tersebut atau berharap orang yang ditag ada yang kecantol dg produk tersebut. Modus lainnya dengan membuat sebuah akun personal untuk produk kemudian add teman sebanyak-banyaknya abis itu tinggal bombardir dengan produk yang ditawarkan.

Saya sempat diskusi dengan beberapa orang pelaku jualan di facebook, dari modus-modus yang dilakukan seperti itu katanya sih laku keras, bahkan ada yang saya amati komentar yang masuk cukup banyak untuk satu produk yang di posting sebagai status. Mirip sekali dengan kaki lima, dagangan pasti laku keras karena itu pusat keramaian, tapi pernah terfikirkan ga bahwa hal tersebut mengganggu orang lain? membuat jalanan yang awalnya nyaman menjadi sumpek, feed yang awalnya berisi status teman-teman yang lucu kemudian dipenuhi oleh list dagangan dari seseorang. Ini masalah etika umum dimana kita harus menghargai hak orang lain dalam mendapatkan hak kita. Apalagi kalau itu bukan hak kita lho.

Nah pertanyaannya cara seperti apa seharusnya yang harus dilakukan tapi cukup efektif? Untuk menjawab pertanyaan ini kita ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Etika

seperti yang dibahas diatas, sebenarnya etika yang ada di online sama aja dengan etika di dunia nyata. Kita harus saling menghargai sehingga tidak ada yang terganggu dengan aktifitas yang kita lakukan. Memang ada beberapa kasus yang suka sama suka, seperti ada brand yang memakai account personal kemudian menawarkan dagangan kepada teman-temannya. Untuk masalah seperti ini ada lagi etika yang tertulis sebenarnya berupa Term Of Service, disini diatur apa yang boleh apa yang tidak, dan sebenarnya ketika kita setuju dengan semua aturan yang ada di suatu aplikasi termasuk facebook kita terikat dengannya.

Mengerti behavior user di facebook

Salah satu kunci sukses memanfaatkan media online termasuk facebook adalah memahami user behavior.

Fitur yang ada di account personal facebook seperti update status, komen status teman, tag foto, undang teman ke sebuah event semua konsepnya adalah sebuah hubungan emosional antara satu orang dengan orang lainnya. Jadi jangan kemudian hal ini di “ganggu” dengan tag foto yang tidak ada hubungan dengannya, atau malah status kita ternyata menjadi sampah di newsfeed orang yang ada dijaringan kita. Sudah pasti kita di facebook menginginkan newsfeednya dihiasi oleh status lucu teman-teman atau foto-foto kenangan.

Selain itu salah satu user behavior di facebook yang mesti dipahami adalah bahwa orang akan cepat mengatakan sesuatu dan itu akan dengan sangat cepat menyebar ke seluruh jaringan yang dia punya. Sekali kita melakukan hal yang tidak disukai oleh seseorang atau mengganggunya dan dia menyampaikan dalam statusnya maka nilai jelek kita akan cepat menyebar.

Mengerti fungsi masing-masing fitur di facebook

Hal ini lebih bersifat teknis, misalnya kita harus tahu bahwa account personal tidak boleh digunakan untuk bisnis, untuk bisnis gunakanlah fanpage. Saat ini account bisnis (fanpage) facebook fitur-fitur yang disediakan sudah sama dengan fitur account personal. Tapi ada beberapa kelebihan di fitur ini, antar lain:

Jumlah fans tidak dibatasi (account personal dibatasi 5000); bisa mengirimkan pesan sekaligus kepada semua fans;bisa menambahkanaplikasi yang dimodifikasi sendiri; terintegrasi dengan  fasilitas iklan facebook; mendapatkan laporan data tentang aktifitas yang terjadi.

Setelah memahami hal diatas kemudian kita bisa menentukan strategi efektif memanfaatkan fanpage facebook sehingga kegiatan yang kita lakukan tetap mendatangkan hasil tanpa menggangu hak orang lain.

Strateginya tergantung kepada produk atau brand kita. Kalau produk atau brandnya sudah kuat maka akan lebih mudah untuk mengumpulkan orang-orang yang akan menjadi fans kita, tapi kalau memang brandnya masih baru dibutuhkan waktu untuk membangun komunitasnya. Pembangunan komunitas ini harus dilakukan dengan sabar dan sebagai pemilik brand harus memberikan hal yang bermanfaat kepada target pasar kita. Di awal undang teman-teman dekat dulu atau bisa juga memakai iklan facebook (saya kira cukup murah dan bisa di budget sebelumnya).

Misalnya produk pakaian muslim, postinglah hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan muslimah, tentang fashion, atau tentang hal yang berkaitan dengan produk kita. Selalu ajak fans yang telah bergabung untuk melakukan komunikasi, munculkan hal-hal yang sifatnya emosional sehingga memancing mereka untuk menanggapi.  Tidak masalah sekali-kali memunculkan update terbaru dari produk kita, tapi jangan terkesan menjual langsung  tapi lebih ke memperkenalkan produk ( ini  jangan terlalu sering). Tanggapan terhadap pertanyaan atau komentar dari fans harus cepat, (memang kalau dari fanspage tidak ada notifikasi), oleh karena itu memang kita harus terbiasa selalu online. Salah kalau ada pandangan bahwa bisnis online  bisa ditinggalkan. Bisnis online harus dipantengi seperti kita menjaga toko, tapi kalau online bisa dilakukan dimanapun. Setelah komunitas terbentuk dan mereka sudah kenal dan suka produk kita percayalah mereka akan mulai membahas produk tersebut dan sales akan datang dengan sendirinya. Yang lebih penting adalah mereka akan menjadi duta produk kita dengan sukarela, paling tidak mengajak teman-temanya yang lain untuk bergabung dengan fanpage kita.

Satu hal yang juga perlu diingat bahwa facebook adalah tempat untuk melakukan marketing dan promosi bukan tempat untuk berjualan, oleh karena itu kita tetap harus mempunyai sebuah toko online atau website yang berisi deskripsi produk kita lebih lengkap. Fanpage hanyalah sarana untuk membentuk komunitas lewat komunikasi dengan tujuan menarik orang untuk datang ke toko kita, ibarat kata, kita punya toko di sebuah tempat, trus kita memasang iklan, mengadakan event dan kegitaan marketing lainnya untuk menarik orang membeli produk kita.

Untuk jangka pendek menurut saya berjualan dengan ala kaki lima memang menguntungkan dan penjualan cepat terjadinya, tapi untuk jangka panjang dan membesarkan bisnis, komunikasi lewat fanpage akan mendatangkan hasil yang lebih optimal.


1 Comment

Social Shopping a.k.a Social Commerce

Munculnya teknologi web 2.0 telah melahirkan revolusi di bidang internet. Semula informasi dari website berjalan searah, tapi sekarang semua orang bisa menjadi kreator konten di internet dengan berkembangnya layanan seperti blog dan situs jaringan sosial. Ternyata perkembangannya tidak cukup sampai disana, fenomena sosial berkembang ke ranah lain termasuk salah satunya adalah ecommerce.

Dari pengamatan saya, fenomena sosial di ecommerce dimulai dari review pelanggan dan testimonial terhadap produk dan layanan dari suatu toko online. Amazon.com sebagai toko online yang cukup terkemuka di dunia mengakui bahwa dari review pelanggan penjualan suatu barang akan signifikan meningkat. Di halaman detail produk mereka sengaja menambahkan fitur costumer review dan rating dari suatu barang yang mereka jual. Hal ini disebabkan pelanggan sekarang lebih cerdas, mereka akan mendengarkan orang-orang yang telah mencoba produk tersebut apakah memang seperti yang diungkapkan atau tidak.

Fenomena booming social media seperti blog, facebook dan twiiter kemudian semakin meluas. Proses review terhadap barang tidak lagi hanya terjadi di situs ecommerce yang bersangkutan tapi kemudian diungkap dalam proses komunikasi di media social tersebut. Ketika orang suka terhadap suatu produk dia akan menulis di blognya, mengungkapkan di status facebook dan muncul di timeline twitternya. Salah satu fenomena yang cukup menarik adalah film 3 idiots yang kemudian menyebar di twiiter tentang perasaan orang-orang yang menonton kemudian meningkatkan jumlah penjualan karcis film yang diputar di blitz megaplex ini. Ada semula orang yang tidak suka menonton di bioskop dan tidak terlalu suka dengan film India, ikutan menonton film ini karena timeline twiiternya dipenuhi postingan emosional teman-temannya tentang film ini.Salah satunya bisa dibaca di blog ini.

Nah sekarang kita berbicara sedikit tentang definisi dari social commerce, dari definisi wikipedia secara sederhana dapat diartikan sebagai penggunaaan sosial media dalam konteks ecommerce. Lebih lengkapnya social commerce adalah adalah bagian dari ecommerce yang melibatkan penggunaan media sosial, media online yang mendukung interaksi sosial dan sumbangan pengguna, untuk membantu dalam pembelian dan penjualan online produk dan jasa. Dari definisi ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa ketika suatu merek atau brand menggunakan social media seperti facebook atau twitter untuk memasarkan produknya termasuk dalam terminologi ini. Forum jual beli kaskus.com tentu saja juga merupakan salah satu contoh dari sosial commerce ini.

Sekarang bagaimana dengan pertanyaan di status saya sebelumnya, apakah postingan di newsfeed facebook adalah termasuk bagian dari social commerce, jawabannya tentu saja. Tapi ada satu hal yang pasti harus diperhatikan oleh brand, pemilik produk atau sales yang ingin menggunakan facebook. Yang pasti mereka mempunyai peraturan yang harus diikuti, seperti tidak diperbolehkan menggunakan akun pribadi untuk brand atau bisnis. Selain itu ada etika yang menurut saya harus diperhatikan, walaupun itu sebenarnya tidak ada di aturan yang dikeluarkan facebook tapi bisa saja berbahaya bagi yang pemilik akun seperti tag foto produk kepada orang-orang tertentu, atau postingan yang berisi jualan suatu produk (hard selling). Memang ini tidak akan langsung dikenakan sanksi oleh facebook tapi ketika suatu akun dan aktifitasnya dilaporkan karena mengganggu pengguna lain (contoh dilaporkan sebagai spam) bisa saja akun tersebut bisa diban.

Permasalahannya, dari obrolan saya dengan beberapa orang yang melakukan kegiatan yang “terlarang” di atas, katanya cukup efektif untuk menjual suatu produk. Memang setelah saya amati untuk beberapa kasus yang temannya suka terhadap barang tersebut kemudian menjadi pembicaraan melalui komen, tapi tidak jarang juga ada beberapa orang yang mengeluh karena di tag foto yang sebenarnya tidak berhubungan dengannya. Kegiatan ini sebenarnya bisa kita analogikan seperti berjualan kaki lima di badang jalan atau trotoar, pasti rame karena banyak orang yang lalu lalang, tapi kan itu menggangu pengguna lalu lintas lain atau mengganggu si pejalan kaki sendiri, dan sewaktu-waktu diamankan oleh trantib. Sebenarnya ada beberapa contoh kasus untuk memanfaatkan facebook untuk memasarkan produk bahkan sampai terjadi sales, tapi tidak melanggar aturan dan etika yang ada di facebook. Salah satunya adalah kampanye yang dilakukan oleh P & G untuk produk Pampers, dari kampanye ini mereka bisa menghasilkan 1000 transaksi dalam sejam. Studi kasus ini akan saya tuliskan dalam postingan berikutnya.

Jadi kalau sekarang ada muncul fb preneur (memanfaatkan facebook sebagai ajang bisnis) jadilah seorang fbprenueur yang benar; tidak menyalahi aturan; dan tidak mengganggu pengguna lain.


1 Comment

Undangan di Era web 2.0

Sesuai dengan judulnya, kali ini saya mau sharing pengalaman persiapan pernikahan yang akan berlangsung minggu depan tepatnya tgl 10 Mei. Salah satu yang paling penting adalah undangan.

Untuk acara ini memang sudah dipersiapkan undangan cetak sebanyak 1000 buah termasuk itu untuk keluarga, kerabat orang tua dan beberapa orang teman. Dan terus terang cukup ribet utk menyebarkannya. Akhirnya saya mulai memikirkan undangan di online,pilihan jatuh akhirnya ke RSVP facebook dan google maps.

Tapi permasalahnnya apakah itu sopan dan sesuai dengan kebiasaan kita? Pasti untuk sebagian orang belum bisa diterima, namun bagi orang-orang yang sudah menjadi member facebook menurut saya sudah jadi tidak masalah karena sudah pasti sesuai dengan behaviour sebagai pengguna facebook. Dan buktinya dengan cara seperti ini pekerjaan mengundang orang jadi sangat lebih gampang selain tentunya kita bisa lebih hemat kertas dan itu berarti turut menjaga bumi kita.

Write from wordpress aplication in my iPhone