Kafey's Cafe

cafe online–tersedia menu maya


2 Comments

Chatting di TL Twitter

Salah satu status twitter saya pagi ini mendapat beberapa tanggapan dari teman-teman tweps. Bunyinya kira-kira begini ” @kafey: Ni abg2 pake twitter buat chatting :). Tweet ini dilatarbelakangi oleh akun twitter adik ipar saya. Ceritanya kan baru punya handphone lumia, dan baru saja masuk SMP  jadinya twitter-an terus. Karena memang suka ngamatin abg dan tingkah lakunya, saya sering singgah di akun tersebut, ternyata hampir semua isi TL itu adalah saling mention dengan temannya lebih pantas sih disebut chatting.
Eh tidak beberapa lama saya tweet, muncullah beberapa tanggapan dari teman-teman tweps dan ada beberapa yang akhirnya jadi ngobrol via twitter juga hehehehe. Berikut kronologisnya
[View the story “Chatting di TL” on Storify]
Kenapa fenomena ini terjadi dan tidak hanya ke satu orang, apakah ada gagap socmed atau memang sebenarnya fungsi dan user interface twitter kemudian melahirkan tingkah laku para abg ini?

Tulisan ringan ini ditulis sambil ngamatin timeline @kafey dengerin lagu the beatles di Spotify..


1 Comment

Percaya Google 100 % Bisa Menyesatkan

Ada anekdot di Amerika “cuma satu google yang tidak tahu, dimana Tuhan berada”, anekdot ini muncul karena sekarang semua informasi yang kita butuhkan hampir semua bisa dicari lewat mesin pencari Google. Dengan algoritmanya google seakan menjadi sebuah perpustakaan super besar  yang berisi pengetahuan tentang apa yang ada di seluruh dunia. Tidak berlebihan memang apalagi sejak diperbaharuinya algoritma mesin pencari ini situs-situs yang berisi sampah sudah jarang mendapatkan tempat di halaman pertama google. Tentang algoritma baru ini bisa dibaca di sini.

Tapi benarkah google dengan algoritmanya memberikan keakuratan terkait dengan suatu informasi. Secara teknis harusnya benar karena algoritma google salah satunya kepada seberapa banyak suatu informasi dari suatu halaman web  dijadikan referensi oleh situs lain. Semakin banyak dia dijadikan referensi semakin berkualitas informasi tersebut.

Tapi menurut saya tidak bisa 100 % sebuah informasi yang didapat dari google memuat nilai kebenaran, terlepas dari konten-konten yang bersifat sampah sudah bisa direduksi oleh algoritma yang baru. Hal ini tidak sengaja saya temukan ketika iseng-iseng mencari dalil yang berhubungan dengan metode wujudul hilal dalam menentukan kapan masuk bulan baru.  Dan apa yang saya temukan dalam hasil pencarian tersebut, alih-alih mendapatkan dalil yang digunakan sebagai landasan metode wujudul hilal malahan yang dihasilkan sebagian besar pendapat yang menyalahkan kriteria tersebut tanpa mendapatkan satu informasi yang memberikan informasi yang berimbang yang menjelaskan sesuai dengan kata kunci yang saya inginkan.

Contoh kasus ini bisa terjadi juga untuk kata kunci yang lainnya dimana suatu kata kunci ternyata diisi oleh informasi yang tidak memberikan fakta yang sesungguhnya. Bisa direkayasa ataupun bisa terjadi secara alami karena fakta tentang kata kunci tersebut sangat sedikit dan tidak diaku sebagai informasi yang valid oleh algoritma google.

Melihat adanya kelemahan yang dihasilkan oleh kecanggihan algoritma google ini, tetap diperlukan filter lain diluar teknologi itu sendiri yaitu manusianya. Apalagi untuk informasi-informasi yang membutuhkan nilai kebenaran yang akurat sehingga bisa diakui sebagai sebuah pengetehuan yang ilmiah. Termasuk di dilam ini adalah untuk dunia pendidikan. Seperti apa di dunia pendidikan, apakah dengan adanya google posisi guru yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pengetahuan tidak diperlukan lagi? Saya akan coba ulas di tulisan selanjutnya.

Sekarang saya kembali membayangkan web semantik 😀


Leave a comment

Kalau Dibatasi Mereka Jadi Ga Kreatif

Dalam beberapa hari ini sering sekali saya mendengar diskusi dengan kata kunci kreatif, walaupun sehari-hari selalu berhubungan dengan kreatifitas. Mulai dari tweet teman, yang mempertanyakan kenapa science tech tidak dimasukkan ke dalam kategori kreatif, diskusi tentang desain web di kantor, sampai ucapan teman bahwa kalau dibatasi kreatifitas seseorang akan menurun.

Sejarah telah mencatat, sebenarnya kreatifitas itu tidak berhubungan dengan latar belakang keilmuan, mau dia science, humaniora dan seni semuanya mengandung unsur kreatifitas untuk mencipta dan mengembangkan sesuatu. Contoh kasus penemuan mesin uap, pesawat terbang (yang sangat fisika dan matematis) membutuhkan kreatifitas dan imajinasi untuk bisa kemudian tercipta penemuan tersebut.

Contoh dikotomi lainnya munculnya kata kreatif IT, dan itu kemudian terimplementasi dalam divisi di organisasi perusahaan antara bidang kreatif dan bidang IT. Bukankah kedua-duanya membutuhkan kreatifitas, desain jelas harus kreatif, tapi pemograman juga butuh kreatifitas yang tinggi untuk menghasilkan suatu program yang efektif dan efisien.

Konsen tulisan saya yang terakhir adalah tentang pembatasan yang akan menghambat kreatifitas, saya agak kurang setuju, karena pada realitasnya dunia ini memang terbatas, dan dengan keterbatasan itu justru muncul sebuah ide-ide besar yang mengagumkan. Menurut saya itu kreatiftas sejati.

Ngomong-ngomong jadi ingat kalau untuk mendesain pesawat itu pake persamaan matematika. Sangat kreatif lho.


Leave a comment

Web Desain adalah Typografi

Ada yang berpendapat bahwa 95% web design adalah typografi http://informationarchitects.jp/the-web-is-all-about-typography-period/. Memang banyak contoh website sukses yang user interface-nya lebih dominan typografi, coba saja cek google, ebay, bahkan facebook pun menurut saya juga mengandalkan typografi. Bagaimanakah pendapat anda


1 Comment

Kasus Rani Juliani, Antasari Azhar dan Nasarudin Zulkarnaen, Jurus Memancing di Air Keruh

Pemberitaan media yang sangat gencar tentang kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen yang diduga melibatkan Ketua KPK Antasari Azhar, mendadak membuat nama Rani Juliani menjadi terkenal baik di dunia nyata maupun di internet. Ya kita semua sudah tahu apa kaitannya tidak usah dibahas di blog ini.

Saya mau melihat dari sudut pandang pencarian di internet, ternyata pencarian dengan kata kunci Rani Juliani meningkat drastis dalam seminggu terakhir. Tren pencariannya bisa dilihat di sini. Dari data di google trends tersebut terlihat bahwa dalam sepekan terakhir pencarian terhadap kata kunci Rani Juliani meningkat cukup signifikan dan begitu pula dengan pencarian dengan kata kunci Antasari Azhar dan Nasarudin. Pencarian terhadap kata kunci ini mengalahkan pencarian terhadap kata kunci Sarah Azhari dan Miyabi (kedua kata kunci ini trend pencariannya relatif stabil terhadap waktu. Fenomena ini juga pernah berlaku sewaktu heboh-heboh masalah Ponari seperti yang ditulis di sini

Meningkatnya pencarian terhadap kata kunci ini memberi berkah kepada para pemburu traffic dan para pendekar SEO.Dengan menulis tentang kasus pembunuhan Nasarudin dan kronologis penangkapan para tersangka sehingga sampai ke penangkapan Antasari Azhar (Ketua KPK non aktif), apalagi sesuatu dengan judul yang cukup kontroversial atau profokatif seperti judul tulisan yang saya buat ini pasti akan memancing banyak orang yang ingin tahu tentang kasus ini diluar pemberitaan media baik media massa maupun media online.  Saya mengambil istilah yang dipakai oleh pemburu traffic dan pendekar SEO ini dengan nama jurus memancing di air keruh. Contoh beberapa blog yang yang cukup banyak dikunjungi bisa dilihat di tautan ini atau di tautan ini. Atau kalau mau contoh yang lebih kontroversial lagi adalah cerita tentang cinta segitiga yang dicurigai menjadi alasan pembunuhan seperti yang ada di blog ini walaupun kebenarannya bisa dipertanyakan karena tidak jelas darimana penulis mendapatkan cerita tersebut. Bahkan tempo interaktif pun memanfaatkan jurus ini dengan menulis di blognya dengan judul yang lebih profokatif seperti di tautan ini.

Selain para pendekar SEO kasus ini juga dimanfaatkan oleh pengiklan online atau yang sering menyebut diri mereka internet marketer. Dengan tingginya kunjungan ke blog milik Rani Juliani mereka ikut memberikan komentar tapi komentarnya itu berisi iklan tentang produk yang mereka jual atau link ke landing page mereka. Cara ini juga sebenarnya upaya untuk meningkatkan traffic ke landing page mereka.

Sebenarnya fenomena meningkatnya trend pencarian terhadap kasus-kasus yang sedang hangat mencerminkan online user behavior, bahwa mereka ingin mencari sebuah sumber berita lain diluar berita dari media mainstream. Mungkin hal ini disebabkan oleh berita dari beberapa media mainstream seperti detik.com sudah mulai agak ngawur atau karena kejar tayang sehingga kualitas pemberitaannya tidak diperhatikan lagi. Tapi permasalahan baru akan muncul ketika yang mereka temui setelah googling adalah beberapa blog yang membahas kasus tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan traffic seperti yang saya tulis di atas. Akhirnya pembaca harus cerdas dalam menganalisa semua sumber yang ada.

NB:

Tulisan ini sebagai update dari tulisan sebelumnya yang hanya muncul sebagian, mungkin karena error sewaktu upload pertama kali.


1 Comment

Undangan di Era web 2.0

Sesuai dengan judulnya, kali ini saya mau sharing pengalaman persiapan pernikahan yang akan berlangsung minggu depan tepatnya tgl 10 Mei. Salah satu yang paling penting adalah undangan.

Untuk acara ini memang sudah dipersiapkan undangan cetak sebanyak 1000 buah termasuk itu untuk keluarga, kerabat orang tua dan beberapa orang teman. Dan terus terang cukup ribet utk menyebarkannya. Akhirnya saya mulai memikirkan undangan di online,pilihan jatuh akhirnya ke RSVP facebook dan google maps.

Tapi permasalahnnya apakah itu sopan dan sesuai dengan kebiasaan kita? Pasti untuk sebagian orang belum bisa diterima, namun bagi orang-orang yang sudah menjadi member facebook menurut saya sudah jadi tidak masalah karena sudah pasti sesuai dengan behaviour sebagai pengguna facebook. Dan buktinya dengan cara seperti ini pekerjaan mengundang orang jadi sangat lebih gampang selain tentunya kita bisa lebih hemat kertas dan itu berarti turut menjaga bumi kita.

Write from wordpress aplication in my iPhone