Kafey's Cafe

cafe online–tersedia menu maya

Social Shopping a.k.a Social Commerce

1 Comment

Munculnya teknologi web 2.0 telah melahirkan revolusi di bidang internet. Semula informasi dari website berjalan searah, tapi sekarang semua orang bisa menjadi kreator konten di internet dengan berkembangnya layanan seperti blog dan situs jaringan sosial. Ternyata perkembangannya tidak cukup sampai disana, fenomena sosial berkembang ke ranah lain termasuk salah satunya adalah ecommerce.

Dari pengamatan saya, fenomena sosial di ecommerce dimulai dari review pelanggan dan testimonial terhadap produk dan layanan dari suatu toko online. Amazon.com sebagai toko online yang cukup terkemuka di dunia mengakui bahwa dari review pelanggan penjualan suatu barang akan signifikan meningkat. Di halaman detail produk mereka sengaja menambahkan fitur costumer review dan rating dari suatu barang yang mereka jual. Hal ini disebabkan pelanggan sekarang lebih cerdas, mereka akan mendengarkan orang-orang yang telah mencoba produk tersebut apakah memang seperti yang diungkapkan atau tidak.

Fenomena booming social media seperti blog, facebook dan twiiter kemudian semakin meluas. Proses review terhadap barang tidak lagi hanya terjadi di situs ecommerce yang bersangkutan tapi kemudian diungkap dalam proses komunikasi di media social tersebut. Ketika orang suka terhadap suatu produk dia akan menulis di blognya, mengungkapkan di status facebook dan muncul di timeline twitternya. Salah satu fenomena yang cukup menarik adalah film 3 idiots yang kemudian menyebar di twiiter tentang perasaan orang-orang yang menonton kemudian meningkatkan jumlah penjualan karcis film yang diputar di blitz megaplex ini. Ada semula orang yang tidak suka menonton di bioskop dan tidak terlalu suka dengan film India, ikutan menonton film ini karena timeline twiiternya dipenuhi postingan emosional teman-temannya tentang film ini.Salah satunya bisa dibaca di blog ini.

Nah sekarang kita berbicara sedikit tentang definisi dari social commerce, dari definisi wikipedia secara sederhana dapat diartikan sebagai penggunaaan sosial media dalam konteks ecommerce. Lebih lengkapnya social commerce adalah adalah bagian dari ecommerce yang melibatkan penggunaan media sosial, media online yang mendukung interaksi sosial dan sumbangan pengguna, untuk membantu dalam pembelian dan penjualan online produk dan jasa. Dari definisi ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa ketika suatu merek atau brand menggunakan social media seperti facebook atau twitter untuk memasarkan produknya termasuk dalam terminologi ini. Forum jual beli kaskus.com tentu saja juga merupakan salah satu contoh dari sosial commerce ini.

Sekarang bagaimana dengan pertanyaan di status saya sebelumnya, apakah postingan di newsfeed facebook adalah termasuk bagian dari social commerce, jawabannya tentu saja. Tapi ada satu hal yang pasti harus diperhatikan oleh brand, pemilik produk atau sales yang ingin menggunakan facebook. Yang pasti mereka mempunyai peraturan yang harus diikuti, seperti tidak diperbolehkan menggunakan akun pribadi untuk brand atau bisnis. Selain itu ada etika yang menurut saya harus diperhatikan, walaupun itu sebenarnya tidak ada di aturan yang dikeluarkan facebook tapi bisa saja berbahaya bagi yang pemilik akun seperti tag foto produk kepada orang-orang tertentu, atau postingan yang berisi jualan suatu produk (hard selling). Memang ini tidak akan langsung dikenakan sanksi oleh facebook tapi ketika suatu akun dan aktifitasnya dilaporkan karena mengganggu pengguna lain (contoh dilaporkan sebagai spam) bisa saja akun tersebut bisa diban.

Permasalahannya, dari obrolan saya dengan beberapa orang yang melakukan kegiatan yang “terlarang” di atas, katanya cukup efektif untuk menjual suatu produk. Memang setelah saya amati untuk beberapa kasus yang temannya suka terhadap barang tersebut kemudian menjadi pembicaraan melalui komen, tapi tidak jarang juga ada beberapa orang yang mengeluh karena di tag foto yang sebenarnya tidak berhubungan dengannya. Kegiatan ini sebenarnya bisa kita analogikan seperti berjualan kaki lima di badang jalan atau trotoar, pasti rame karena banyak orang yang lalu lalang, tapi kan itu menggangu pengguna lalu lintas lain atau mengganggu si pejalan kaki sendiri, dan sewaktu-waktu diamankan oleh trantib. Sebenarnya ada beberapa contoh kasus untuk memanfaatkan facebook untuk memasarkan produk bahkan sampai terjadi sales, tapi tidak melanggar aturan dan etika yang ada di facebook. Salah satunya adalah kampanye yang dilakukan oleh P & G untuk produk Pampers, dari kampanye ini mereka bisa menghasilkan 1000 transaksi dalam sejam. Studi kasus ini akan saya tuliskan dalam postingan berikutnya.

Jadi kalau sekarang ada muncul fb preneur (memanfaatkan facebook sebagai ajang bisnis) jadilah seorang fbprenueur yang benar; tidak menyalahi aturan; dan tidak mengganggu pengguna lain.

Author: kafey

mencoba untuk tetap lebih baik setiap hari, every day with the best performance

One thought on “Social Shopping a.k.a Social Commerce

  1. Lansung action bro . .

    Kesulitan bisa kontak gw. .
    tapi yakin lo pasti bisa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s