Openbravo solusi ERP dan Point Of Sales untuk UKM

Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan di Jakarta saya melihat salah satu gerai makanan di km 60 menggunakan POS, namanya openbravo, kemudian penasaran akhirnya masuklah ke situs openbravo.com. Setelah sedikit pelajari dan coba-coba openbravo menawarkan solusi ERP dan Point Of Sales, dan yang paling menarik software ini open source dengan lisensi GPL. Jadi intinya software ini bisa digunakan secara free dan bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.

Selain digunakan terpisah berdiri sendiri, POS open bravo bisa diintegrasikan dengan ERP sehingga bisa diketahui secara real time kegiatan di masing-masing gerai. Ini cocok untuk usaha yang mempunyai beberapa gerai yang ingin dipantu secara realtime penjualan di masing-masing gerai.

Dari sisi harga, setelah dihitung, bisa di bawah harga cash register casio dengan banyak kelebihan seperti stock barang dan report penjualan dan database customer.

Setalah saya coba POS openbravo ini  cukup gampang digunakan, bisa menambahkan stock barang, record data customer dan tentu saja report data penjualan setiap kali terjadi transaksi.

Untuk ERP bisa dilihat penjelasannya pada link berikut:

http://www.openbravo.com/videos/navigating-ob3.html

Tertarik untuk menggunakan di bisnis anda, langsung download dari situs openbravo.com

Percaya Google 100 % Bisa Menyesatkan

Ada anekdot di Amerika “cuma satu google yang tidak tahu, dimana Tuhan berada”, anekdot ini muncul karena sekarang semua informasi yang kita butuhkan hampir semua bisa dicari lewat mesin pencari Google. Dengan algoritmanya google seakan menjadi sebuah perpustakaan super besar  yang berisi pengetahuan tentang apa yang ada di seluruh dunia. Tidak berlebihan memang apalagi sejak diperbaharuinya algoritma mesin pencari ini situs-situs yang berisi sampah sudah jarang mendapatkan tempat di halaman pertama google. Tentang algoritma baru ini bisa dibaca di sini.

Tapi benarkah google dengan algoritmanya memberikan keakuratan terkait dengan suatu informasi. Secara teknis harusnya benar karena algoritma google salah satunya kepada seberapa banyak suatu informasi dari suatu halaman web  dijadikan referensi oleh situs lain. Semakin banyak dia dijadikan referensi semakin berkualitas informasi tersebut.

Tapi menurut saya tidak bisa 100 % sebuah informasi yang didapat dari google memuat nilai kebenaran, terlepas dari konten-konten yang bersifat sampah sudah bisa direduksi oleh algoritma yang baru. Hal ini tidak sengaja saya temukan ketika iseng-iseng mencari dalil yang berhubungan dengan metode wujudul hilal dalam menentukan kapan masuk bulan baru.  Dan apa yang saya temukan dalam hasil pencarian tersebut, alih-alih mendapatkan dalil yang digunakan sebagai landasan metode wujudul hilal malahan yang dihasilkan sebagian besar pendapat yang menyalahkan kriteria tersebut tanpa mendapatkan satu informasi yang memberikan informasi yang berimbang yang menjelaskan sesuai dengan kata kunci yang saya inginkan.

Contoh kasus ini bisa terjadi juga untuk kata kunci yang lainnya dimana suatu kata kunci ternyata diisi oleh informasi yang tidak memberikan fakta yang sesungguhnya. Bisa direkayasa ataupun bisa terjadi secara alami karena fakta tentang kata kunci tersebut sangat sedikit dan tidak diaku sebagai informasi yang valid oleh algoritma google.

Melihat adanya kelemahan yang dihasilkan oleh kecanggihan algoritma google ini, tetap diperlukan filter lain diluar teknologi itu sendiri yaitu manusianya. Apalagi untuk informasi-informasi yang membutuhkan nilai kebenaran yang akurat sehingga bisa diakui sebagai sebuah pengetehuan yang ilmiah. Termasuk di dilam ini adalah untuk dunia pendidikan. Seperti apa di dunia pendidikan, apakah dengan adanya google posisi guru yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pengetahuan tidak diperlukan lagi? Saya akan coba ulas di tulisan selanjutnya.

Sekarang saya kembali membayangkan web semantik :D

Fitur atur privacy status di Facebook

Persaingan di sosial media semakin ketat, facebook sebagai situs jejaring sosial terbesar dengan anggota lebih dari 750 juta orang tidak mau kecolongan dengan munculnya google+. Isu privacy yang selama ini selalu mengganggu facebook yang dijadikan salah satu gimik di google+ akhirnya mereka jawab dengan mengeluarkan fitur untuk pengaturan siapa saja yang berhak melihat postingan kita ketika sebuah status dibuat.

fbhome

Pada screenshot di atas dapat dilihat ada tambahan satu bar baru di tempat status kita buat. Bar itu untuk mengatur privacy siapa saja yang bisa melihat status kita (public, friends, atau custom). Selain pengaturan privacy, model mention teman (tag) yang semula bisa menggunakan @, sekarang diberikan bar untuk menuliskan nama teman. Dan satu lagi fitur yang disematkan disini adalah fitur tempat dimana kita berada, yang sebelumnya terpisah dari facebook adanya di facebook place.

Untuk fitur privacy sendiri sebenarnya dulu sudah ada, tapi kita mesti masuk dulu ke pengaturan keseluruhan tidak bisa diatur setiap kali kita ingin menuliskan status. Yang baru sekarang adalah pengaturan custom dimana kita bisa menentukan personal bukan hanya publik atau teman atau teman dari teman seperti pengaturan sebelumnya.

Dilihat dari sisi usability, dibandingkan google+, fitur pengaturan privacy postingan facebook ini cukup lebih rumit, terutama untuk pengaturan personal (orang-per orang) karena mesti masuk ke pilihan custom dan kemudia beberapa langkah baru bisa menentukan siapa saja yang berhak melihat postingan kita.

Pertanyaan selanjutnya apakah fitur ini bisa dimanfaatkan user dengan baik, atau menurut anda kira-kira bisa berguna untuk apa saja?

Personal dan Profesional Branding Lewat Blog

Beberapa waktu yang lalu ketika kemunculan facebook dan twitter, para narablog mulai jarang memperbaharui isi blog mereka. Dari sana muncul diskusi apakah ini adalah titik matinya blog atau justru blog menemukan bentuk lainnya. Pendapat pertama ternyata tidak benar, karena masih banyak orang-orang yang konsisten memperbaharui konten blognnya ataupun bermunculan blog-blog baru. Pendapat kedua yang mengatakan blog akan menemukan bentuk lain, sepertinya bisa dikatakan benar, karena blog yang semula adalah curahan pribadi berubah ke arah yang sifatnya profesional dan konten-konten yang punya nilai yang lebih dari sekedar diari, karena kebutuhan curhat pribadi sudah terpenuhi dengan adanya facebook dan twitter (setidaknya ini yang saya amati di Indonesia).

Mengenai perubahan arah blog ini, kemaren ada teman yang mengirimkan email ke saya meminta komentar terhadap strategi personal brandingnya. Awalnya dia membuat dua blog, pertama blog spesifik pada isue tertentu dan yang kedua blog yang sifatnya lebih general. Tapi ternyata setelah beberapa lama energinya tidak cukup, akhirnya yang spesifik mulai tidak terurus. Jadi strategi seperti apa yang cocok tanyanya.

Saya akhirnya memberikan contoh dua orang narablog yang mempunyai strategi beda pertama adalah Pak Nukman Luthfie dan yang kedua adalah Uda Roni Yuzirman. Kalau Pak Nukman beliau mempunyai dua blog (http://virtual.co.id/blog dan http://nukmanluthfie.com), blog profesional dan blog pribadi. Blog profesional sekaligus korporat blog berisi tentang hal yang spesifik tentang dunia digital marketing, dan sekarang blog tersebut diisi bukan hanya oleh beliau lagi tapi oleh tim Virtual Consulting. Sedangkan blog personal beliau lebih berisi pandangan yang lebih general baik tentang bisnis atau isu-isu yang sedang hangat.

Bandingkan dengan Uda Roni, blog http://roniyuzirman.com berisi semua hal mulai dari yang pribadi sampai pandangan-pandangan beliau tentang  profesinya sebagai pengusaha busana muslim, dan ada juga tentang dunia kewirausahaan.

Nah mana yang paling efektif? menurut saya dua-duanya efektif untuk personal branding, tinggal apa objektif kita dan sejauh mana energi yang dipunya untuk pengelolaannya.

Jadi mari ngeblog lagi..

Kebiasaan Menulis Dipengaruhi Kebiasaan Membaca

Hari Ahad kemaren di kantor diadakan kopi darat pertama komunitas menulis. Komunitas ini dimulai dari group di facebook yang diinisiasi oleh seorang guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Nagreg yaitu Pak Iwan Ardi. Yang hadir kemaren sekitar 5 orang dan yang paling mengejutkan ada 2 orang yang cukup sepuh tapi masih punya semangat untuk belajar menulis.

Setelah ramah- tamah dan memperkenalkan diri, kemudian lanjut ke acara diskusi tentang kendala-kendala yang dihadapi ketika menulis. Salah satu pertanyataan yang menarik buat saya adalah permasalahan hilangnya ide ditengah jalan ketika sedang menulis sesuatu, padahal di awalnya sudah menemukan topik untuk ditulis. Itu sering terjadi juga pada saya, ternyata saudara-saudara!, permasalahan kehilangan ide dan kehilangan diksi di tengah-tengah kita menulis disebabkan oleh kebiasaan kita membaca yang sering putus-putus atau terhenti ditengah. Selain itu juga karena kita kurang menguasai topik tersebut.

Dari diskusi ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk bisa menulis harus dipancing dulu dengan memperluas wawasan kita, baik dengan membaca ataupun melakukan eksplorasi terhadap suatu hal.

Jadi mari menulis dan itu bisa di mulai di blog atau facebook untuk gampangnya.

Penerapan E-Learning Guru Harus Paham “User Behavior” Muridnya

Saya ingin sedikit berbagi tentang Seminar Nasional Elearning yang diadakan oleh Comblabs ITB. Acara yang sangat menarik dengan jumlah audiens yang cukup besar, sampai mencapai angka 250 orang yang terdiri dari Guru, Dosen, dan praktisi e-learning. Saya tidak ingin menceritakan keseluruhan acara ini tapi ada satu hal yang cukup menarik dari hasil pertanyaan audiens yang merupakan  guru yang telah mencoba memanfaatkan TIK dalam proses belajar mengajarnya.

Bapak guru ini menjelaskan bahwa ada sedikit kendala yang dia temukan dalam penerapannya, dia mencoba menulis tentang bahan pelajaran di sebuah blog,  murid-muridnya juga diberikan tugas untuk membuat blog dan proses ini bekerja dengan cukup memuaskan, tapi ketika si Bapak membagi bahan pelajaran melalui email cukup menemui kesulitan dan muridnya jarang yang mengunduh bahan tersebut. Si Bapak berkesimpulan bahwa kendalanya adalah di infrastruktur internet, murid-murid belum semua bisa mengakses internet dengan mudah. Dan kemudian diskusi berkembang di masalah infrastruktur ini.

Saya mencoba menganalisis, benarkah kendalanya ada di akses internet para murid? Kalau dilihat dari kasus di atas ketika penggunaan blog berjalan dengan lancar tapi pada saat guru mengirimkan bahan pelajaran via email bermasalah, menurut saya itu bukan permasalahan ketidaktersediaan infrastruktur internet. Walaupun belum semua murid mempunyai akses internet di rumah, tapi warnet sangat banyak dengan harga yang cukup terjangkau. Permasalahannya si Bapak guru tidak memahami user behavior, bagaimana cara anak-anak sekarang mengkonsumsi media online, apa saja yang mereka lakukan, dimana mereka berkumpul.

Dari hasil pengamatan saya anak-anak sekolah zaman sekarang sudah banyak yang meninggalkan email, mereka lebih senang untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-temannya melalui social media, seperti facebook, twitter, kaskus, ataupun blog. Email yang mereka punya hanya digunakan sebagai syarat untuk mengkases situs-situs sosial media tersebut.

Sepertinya benar yang dikatakan Mark Zuckerberg sang pendiri facebook bahwa ABG sudah jarang menggunakan email.

Edutainment via Social Media, Orang Tua Harus Menemani dan Mengarahkan

Banyak konten-konten yang bermutu dan bermanfaat untuk pembelajaran dan perkembangan anak di Social Media. Salah satu yang cukup menarik adalah konten video yang ada di Youtube.com. Kita pasti semua sepakat bahwa belajar dari konten yang bersifat audio dan visual akan lebih menarik dan menyenangkan, apalagi kemudian ditambahkan eksperiens sosial berupa berbagi dengan teman melalui fitur share di facebook ataupun twitter. Tapi ada suatu hal yang harus diperhatikan ketika kita mengkonsumsi itu lewat sosial media, karena sifatnya bebas dan terbuka maka untuk anak-anak harus tetap ditemani dan diarahkan oleh orang tua.

Memang di Indonesia cukup bebas, tidak ada aturan yang ketat mengenai konsumsi media sosial, walaupun sudah ada aturan dari situs semisal facebook.com yang membatasi penggunanya diatas 13 tahun, tapi tetap saja anak-anak SD di Indonesia sudah banyak yang mempunyai akun. Kalau di luar negri, situs semacam togetherville.com (sosial media khusus anak-anak) untuk mendaftar harus melalui akun orang tua, dan setiap aktifitas anaknya orang tua akan bisa mengawasinya.

Khusus untuk situs seperti youtube.com dan yang sejenis, dimana untuk mengakses konten tidak dibatasi (kecuali konten dewasa) tugas orang tua adalah memfilter mana saja konten yang cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan peran seperti ini, selain anak-anak akan menikmati belajar sambil bermain, kedekatan antara orang tua dan anak akan semakin tinggi intensitasnya.

Memahami SEO (Search Engine Optimization) untuk Meningkatkan Trafik ke Situs

Dari hasil iseng kembali melihat konsep SEO, saya mencoba untuk membuat semacam struktur untuk belajar cara SEO. Ini saya sarikan dari tutorial di blog SEOMoz.

Konsepnya sederhana dan saya yakin semua orang dapat mempelajarinya dengan mudah, tapi permasalahannya harus tekun untuk bisa kemudian sukses mengoptimasi strategi search engine. Berikut silabus yang mesti dipelajari:

  • Cara Kerja Search Engine

o  Crawling dan Indexing

o   Menyediakan jawaban pencarian

o   Guidelines 3 SE terbesar (Yahoo, Google, Bing)

  • Cara Manusia berinteraksi dengan Search Engine
  • Pentingnya Search Engine
  • Dasar Desain dan Pengembangan web  SE friendly

o   indexable content (konten)

o   crawlable link structures

o   keyword usage &targeting (kata kunci)

o   keyword density

o   onepage optimization

o   Tag Judul

o   Meta Tag

o   URL Structures

o   pedoman URL

o   Pengaturan Konten

o   Mempertahankan posisi

  • Riset Kata Kunci

o   Cara menilai kata kunci

o   Konsep Longtail

  • Usability, User Experience & Konten
  • Membangun Popularitas dan Tautan

o   Links Signal

o   Dasar Link Building

o   contoh strategi link building

  • Search Engine Tools & Service

o   sitemap, robots.txt,meta robots,rel

o   Search Engine Tools

  • Mitos dan Konsep yang keliru tentang Search Engine
  • Mengukur dan Melacak Kesuksesan

untuk mengetahui isinya silakan masuk ke tautan link diatas. (SEO moz)

SBY aja Pake iPad, Dunia Pendidikan Jangan Kalah dong!!!

Perhatikan Gambar dibawah ini dengan seksama

Yang jelas ini bukan promosi iPad seperti yang sekarang heboh digosipin tentang Presiden SBY ketika pidato tadi malam.
Foto di atas sedikit menggambarkan bagaimana anak-anak sekarang mengkonsumsi media, iya! lewat peralatan digital. Dari mulai memakai Laptop, mp3 player, sampai yang paling anyar adalah menggunakan tablet PC semacam iPad atau saingannya android Tab.

Dengan perkembangan ini seharusnya dunia pendidikan khususnya guru tidak boleh ketinggalan. Penggunaan peralatan digital ini akan sangat membantu pembelajaran. Khusus untuk tablet PC sebuah buku digital (ebook) dapat dikonsumsi  sama dengan pengalaman membaca buku di dunia nyata. Bahkan yang lebih hebat, yang terjadi di film seperti Harry Potter bisa diwujudkan, sebuah buku dengan gambar bergerak yang menjelaskan suatu peristiwa dengan tampilan multimedia.

Menurut saya penerapa di dunia pendidikan akan dapat dengan cepat diimplementasikan, lha harga  tablet PC lebih murah dari pada netbook, dan untuk penerapannya kita tidak perlu dulu menerapkan model  e-learning konvensional (bisa langsung loncat ke model ini). Yang penting sekarang adalah bagaimana untuk membentuk budaya pembelajaran digital ini.

Penasaran Bapak atau Ibu Guru mana dari sekolah mana nih yang mau memulai.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.